//
you're reading...
Uncategorized

Jabatan Pendeta rentan Hukum

Perlukah Pendeta kuatir menerima jemaat yang pandai Alkitab

Kasus semu Penodaan Agama Kristen di Bandung yang mendakwa Pendeta Hadassah J. Werner membuat beberapa Pendeta di Jakarta kuatir. Mereka kuatir jika suatu waktu materi khotbah mereka bisa dijadikan bahan yang membawa dirinya ke Pengadilan, tuduhan Penodaan Agama Kristen terhadap Pendeta Hadassah J. Werner didasari oleh materi diskusi di komunitas tertutup. Jika pasal 156a KUHP yang seyogyanya dikenakan  pada kondisi di muka umum, tapi bisa dikenakan pada diskusi di kantor dan pendengarnya jemaat sendiri yang notabene adalah komunitas tertutup bisa dibayangkan sekarang ini profesi Pendeta ada dibawah bayang-bayang penjara. Seperti yang diungkapkan saksi ahli Dr. Jisman Samosir  dan Jaksa Penuntut Umum mengenai istilah di muka umum adalah gereja yang bisa dihadiri oleh orang umum adalah termasuk yang dapat dikategorikan di muka umum. Sehingga memenuhi klausa dalam Pasal 156a tentang penodaan agama, dan pasal ini menjadi sah dan dapat didakwakan untuk khotbah, pendalaman Alkitab dan diskusi  tertutup di gereja yang diberikan kepada jemaatnya sendiri dengan ancaman kurungan selama-lamanya 5 tahun.

Dr. A. Shepard Supit, Wakil Ketua Umum MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia) mengatakan bahwa peradilan hanya memikirkan dakwaan namun presenden dari dakwaan itu terkadang terlupakan, banyak Pendeta yang merasa mulai kuatir kehilangan otoritas berkhotbah dan sewaktu-waktu bisa diseret ke penjara oleh aduan jemaatnya sendiri. Dan pada saat itu tidak ada pembelaan dari siapapun termasuk dari sinode dan dari komunitas kristen.

Pasal 156a KUHP yang asalnya dibuat untuk kasus penodaan lintas agama, mulai tahun 2012 ini bisa digunakan untuk kasus di dalam agama yang sama.  Pada tanggal 26 Juli 2012, Jaksa Penuntut Umum membacakan dakwaan bahwa nyata seorang pendeta yaitu Pdt. Hadassah J. Werner telah menodai kekristenan dan terhadapnya didakwa kurungan selama 2 tahun penjara dipotong masa tahanan (6 bln lebih). Meski pasal ini telah ditentang oleh MUKI dan PGI, namun kedua organisasi ini tetap tidak berdaya.

Hukum telah merambah ke norma-norma masyarakat dan masuk koridor agama,  pengajaran seorang pendeta, pengalaman spiritualnya, tafsiran Alkitabnya bisa didakwa oleh jemaatnya dan dijerat ke tahanan. Bukan hanya ajaran dan khotbah di gereja, bahkan bukti sekunder (colateral damage) dapat dijadikan  bukti menangkap pendetanya, misal dengan alasan kristiani bahwa ‘buah-buah’ pelayanan dari  pendeta tersebut adalah membuat kehidupan dari jemaatnya menjadi susah. Semua hal buruk yang terjadi di jemaat dipersalahkan pada pendetanya, seperti ketidakharmonisan hubungan keluarga, anak dengan orangtua, suami dengan istri, teman dan pacar, juga kesuksesan usaha dan kesehatan. Jika pendetanya tidak berdoa dan mengunjungi jemaat yang sakit,  maka ia akan dicap sebagai pendeta yang tidak kristiani dan bahkan pendeta atau gembala yang sesat.

Banyak pendeta juga yang mulai kuatir jika jemaatnya adalah ahli Alkitab, lebih  pandai berkhotbah dari pendetanya, atau ahli teologia. Ada ancaman laten yang membuat para pendeta tidak percaya diri dan merasa tidak aman dalam memberikan khotbah dan pengajaran. Tidak ada jaminan bagi dirinya dari komunitas Kristen, organisasi Kristen, Gereja Pusat, Sinode bahkan negara. Dengan kasus pada Pdt. Hadassah J. Werner, adalah mungkin dan sah-sah saja jika  seorang Pendeta didakwa menodai agamanya sendiri yaitu agama kristen,  padahal di agama lain ini sesuatu yang tidak akan pernah mungkin. Pasal 156a KUHP turunan dari PNPS 1965 tentang Pencegahan dan atau Penodaan Agama, semula hanya ditujukan untuk tujuan kerukunan antar agama dan hanya bisa diterapkan untuk kasus lintas agama. Namun pada tahun ini bisa diterapkan pada agama yang sama, bukan agama melawan agama lain, tapi Agama melawan agamanya sendiri. Umat kristen dari denominasi lain bisa mendakwa pendeta dari denominasi suatu gereja.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: